Dukungan Rakyat terhadap Jokowi-JK semakin meningkat

Jokowi Digempur Kampanye Fitnah

Menjelang pemilihan, persaingan dua calon presiden semakin ketat dan fitnah semakin bertebaran. Joko Widodo mengaku heran, kenapa pemerintah, kepolisian dan badan pengawas pemilu tutup mata atas kasus ini.

Fitnah besar-besaran

Namun kampanye Fitnah dan Jahat terbesar dilakukan melalui sebuah tabloid yang bertujuan mendeskridetikan Jokowi dan dibagi-bagikan diantara para santri di Jawa Timur dan Jawa Barat. ”Obor Rakyat” memfitnah Jokowi sebagai non-Muslim keturunan Cina, korup dan hanya “boneka” dari bekas presiden Megawati Sukarnoputri.

Tabloid ini juga melukiskan Jokowi sebagai seorang pembohong dengan hidung Pinokio, serta disebut berkewarganegaraan Singapura. Jokowi telah menyatakan kepada para pendukung kampanyenya dalam sejumlah kesempatan bahwa kedua orang tuanya berasal dari Jawa.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Rano Karno, menganggap lumrah kritik pencalonan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi sebagai presiden. Menurut dia, Jokowi justru semakin populer saat dikritik secara terus-menerus.

“Itu biasalah dalam perjalanan politik. Setelah saya berkecimpung di dunia politik, kritikan itu biasalah,” kata Rano kepada wartawan di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (26/3/2014).

 

Rano Karno: Kritik Diulang-ulang, Jokowi Semakin Populer

 

Jokowi semakin populer

Hasil riset Prapancha Research (PR) menyebutkan nama Joko Widodo (Jokowi) semakin populer di jejaring media sosial (Twitter) mengalahkan para kandidat yang digadang-gadang sebagai calon presiden 2014.

“Jumlahnya jauh di atas kandidat-kandidat kuat presiden lainnya,” kata Analis Prapancha Research Adi Ahdiat, Senin (9/9).

Pantauan terbaru Prapancha Research (PR), fenomena keunggulan Jokowi dalam berbagai survei juga mengalami hal serupa di jejaring sosial Twitter. Dalam rentang hanya setahun (8 September 2012-8 September 2013) terdapat tak kurang dari 6,9 juta kicauan tentang Jokowi.

Ia mengatakan kemunculan Jokowi dalam pentas perpolitikan belakangan ini membawa “efek kejut’, yang tak bisa diabaikan.
Sosok yang sebelumnya membangun karier politiknya dengan menjadi Wali Kota Surakarta, kemudian Gubernur DKI Jakarta hingga sekarang, tak lagi sekadar sosok potensial untuk maju dalam pemilihan presiden tahun depan.

KAMPANYE jahat (hitam) sampai hari ini terus menerpa Joko Widodo (Jokowi). Mengapa tim pemenangan Jokowi-Jusuf Kalla seolah “terkunci” dan tak kuasa membalas serangan maut dari pihak lawan? Lalu mengapa kubu Jokowi tetap percaya diri? Jawabnya, karena semesta mendukung (mestakung) Jokowi.

Anda boleh percaya boleh tidak, alam semesta-lah yang membentuk kubu Jokowi – juga pribadi Jokowi — bersikap seperti itu. Ya, semuanya tergantung alam. Jika Anda seorang religius, silakan Anda tafsirkan bahwa Allah-lah yang membentuk Jokowi dan tim suksesnya seperti itu.

Secara kemanusiaan (kedagingan), kubu Jokowi memang berkeinginan membalas apa yang dilakukan lawan yang sangat mengerikan dan menjijikkan itu, tapi tak kuasa, dan akhirnya semesta juga yang membuka mata hati banyak orang, lalu menjungkirbalikkannya.

Mengapa Tuhan mengodratkan seperti itu? Tanpa bermaksud mendahului kehendak-Nya (ampuni kami ya Tuhan), boleh jadi Tuhan-lah yang memang sudah berkehendak bahwa ke depan bangsa ini perlu pemimpin yang memiliki karakter seperti Jokowi.

Kehendak semesta (baca: Tuhan) kerap tidak bisa kita pahami dan selami. Dari potongan tubuh dan wajahnya, Jokowi (maaf) tak pantas menjadi presiden, sebab jabatan presiden RI sebelumnya diisi lelaki ganteng dan cerdas (Soekarno, Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Susilo Bambang Yudhoyono). Jokowi lagi-lagi dari perawakannya (sekali lagi maaf) hanya pantas menjadi tukang kayu, mentok-mentok ya pengusaha mebel.

Maka wajar jika manusia Indonesia, seperti halnya saya yang ogah berpikir “out of the box” , terejut-kejut tatkala fakta membuktikan Jokowi terpilih menjadi wali kota Solo, gubernur DKI Jakarta, dan kemudian didaulat rakyat menjadi calon presiden, lalu (kemungkinan besar) terpilih menjadi presiden ke-7 Republik Indonesia.

Namun, kalau semesta mendukung Jokowi, kita mau apa? Sampai-sampai Ketua Dewan Syuro PKB Kabupaten Lamongan KH Hasyim Zaelani melontarkan sebuah pernyataan yang memberi angin segar kepada Jokowi-JK. Ia menyebutkan bahwa isyarat kemenangan Jokowi-JK telah tampak. “Kami sudah berkonsultasi dengan ahli-ahli isyarroh bahwa yang kuat telah datang. Siapa dia? Ya Jokowi. Insya Allah beliau kuat karena memimpin dari bawah,” kata Zaelani.

Bolehlah kita tafsirkan bahwa apa yang disampaikan KH Zaelani merupakan bentuk dari semesta mendukung (mestakung) Jokowi.

Istilah mestakung dipopulerkan fisikawan Prof Yohanes Surya. Mestakung merupakan hukum alam di mana ketika suatu individu atau kelompok  berada pada kondisi kritis, maka semesta (dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan dan segala sesuatu di sekitarnya) akan mendukung, sehingga orang yang sedang kritis bisa keluar dari kondisi kritis yang dialaminya.

Yohanes Surya menjelaskan  ada tiga hukum mestakung,  yaitu pertama dalam setiap kondisi kritis ada jalan keluar. Kedua, ketika seorang melangkah, ia akan melihat jalan keluar; dan ketiga, ketika seorang tekun melangkah, ia akan mengalami mestakung (sesmesta mendukung).

Jokowi hampir setiap hari mengalami kritis, terutama sejak ia dicalonkan menjadi gubernur DKI Jakarta, setelah terpilih menjadi gubernur DKI dan setelah ia diutus PDIP menjadi capres, dan memasuki masa kampanye pilpres. Namun karena dia telah bertekad untuk melaksanakan sesuatu yang baik (mulia), maka semesta secara otomatis mendukungnya.

Mestakung apa yang berpihak ke Jokowi? Lihatlah peristiwa berikut ini. Silakan Anda tambahkan kalau fakta yang saya sajikan ini, menurut Anda masih kurang:

  1. Jokowi tidak berambisi menjadi presiden. Berkali-kali dia mengatakan, “saya tidak punya ambisi jadi presiden.” Tapi, tak disangka-sangka PDIP mencalonkannya jadi presiden, karena mayoritas rakyat menghendaki dia jadi presiden. Padahal kalau mau, bisa saja PDIP mencalonkan Megawati jadi capres, atau anak Megawati, Puan Maharani. Penunjukan dirinya sebagai capres diterima dengan penuh tanggung jawab. Langkah berikutnya mestakung pasti berpihak kepada Jokowi.
  2. Partai NasDem langsung memberikan dukungan kepada Jokowi. Otomatis Metro TV yang dimiliki Surya Paloh menjadi televisi resmi Jokowi, padahal sebelumnya televisi ini tidak begitu memberikan  porsi pemberitaan besar kepada Jokowi. Kalau saja NasDem dan Surya Paloh tidak mendukung Jokowi, boleh jadi Jokowi akan dibully oleh semua televisi, karena kubu Jokowi tidak punya media apa pun.
  3. Tidak seperti Prabowo yang mendapat dukungan dana dari Hasjim Djojohadikusumo, Jokowi praktis tidak punya modal untuk biaya kampanye. Tapi ada saja tim Jokowi yang punya gagasan brilian agar Jokowi membuka rekening gotong royong. Berbondong-bondong, puluhan ribu orang dengan sukarela menyumbang, mulai dari tukang becak sampai pengusaha. Informasi yang saya peroleh hingga Sabtu (28/6), uang yang masuk ke tiga rekening gotong royong Jokowi telah mencapai Rp 100 miliar lebih. Mestakung benar-benar berpihak ke Jokowi.
  4. Saat partai-partai akan berkoalisi, jika niatnya cuma mendulang suara, seharusnya PDIP menerima semua partai yang ingin bergabung ke kubu Jokowi. Tapi, mestakung Jokowi berwujud, partai-partai bermasalah merapat ke Gerindra (Prabowo): PKS (kadernya terlibat korupsi), PPP (ketua umumnya Suryadharma Ali mengkorup dana haji), Golkar (ketua umumnya Aburizal Bakrie terus mangkir dalam kasus lumpur Lapindo), PAN (ketua umumnya yang kini jadi cawapres Prabowo jadi makelar migas dan disebut-sebut menjadi tersangka KPK kasus korupsi pengadaan gerbong kereta api), PBB (ketua umumnya MS Kaban diduga terlibat dalam kasus korupsi sistem komunikasi radio terpadu Kementerian Kehutanan, sekarang dicekal KPK).
  5. Masih ingat saat Jokowi bertemu dengan Aburizal Bakrie di Pasar Gembrong, Jakarta Timur? Begitu mesra pertemuan Bakrie-Jokowi ketika itu. Banyak yang menduga Bakrie akan jadi cawapres mendampingi Jokowi.  Lha, kok batal begitu saja, karena beberapa jam kemudian Bakrie merapat ke Prabowo dan tanpa berpikir panjang, Prabowo menerima “pinangan” Bakrie. Mestakung menyelamatkan Jokowi.
  6. Meskipun Jokowi dan PDIP tidak memobilisasi massa, sampai tulisan ini saya buat, relawan terus bermunculan dari segala penjuru angin memberikan dukungan kepada Jokowi. Mereka memberikan dukungan tidak saja secara fisik, tapi juga lewat media sosial. Ada juga yang dengan sukarela menciptakan lagu dan ditayangkan di Youtube, tak terhitung banyaknya. Situs-situs pro-Jokowi bermunculan sampai-sampai si empunya nama Joko Widodo tidak punya hak lagi memakai namanya sendiri di dunia maya. Lagi-lagi mestakung pro Jokowi.
  7. Ahmad Dhani coba-coba memberikan dukungan dengan membuat lagu berjudul “Indonesia Bangkit” untuk mendukung Prabowo dan diunggah di Youtube. Ya, ampun, Ahmad Dhani terpeleset karena ulahnya sendiri. Penampilannya di Youtube dicerca banyak orang, karena ia berseragam tentara Nazi dan dituding ingin menghidupkan rezim kejam dan otoriter mirip dengan capres yang didukungnya. Lebih memalukan, ternyata lagu yang dibuat Ahmad Dhani menjiplak lagu berjudul We Will Rock Youe besutan Queen. Kubu Prabowo ikut malu. Lagu Indonesia Bangkit dan videoklip Ahmad Dhani pun dihapus dari Youtube. Apes buat kubu Prabowo, tapi mestakung berpihak ke Jokowi.
  8. Sekarang ayo kita bedah Amien Rais yang mati-matian medukung Prabowo, karena “bonekanya” (Hatta Rajasa) jadi cawapres Prabowo. Lho, bukannya dia tidak suka dengan Prabowo? Menanggapi isu ini, Amien bilang: “Tunjukkan kepada saya koran yang pernah memberitakan bahwa saya minta agar Prabowo diadili. Kalau ada, saya akan berjalan kaki dari Yogyakarta ke Jakarta.” Eh, tidak lama kemudian ada yang menyebarluaskan info lewat sosial media kliping HL surat kabar Republika yang berjudul: “Amien Rais Minta Prabowo Dimahmilkan”. Kita tunggu kapan Amien Rais akan berjalan kaki Yogyakarta-Jakarta, dan semoga Jokowi yang didukung mestakung mau menggendongnya saat profesor itu pingsan.
  9. Ah, putri Amien Rais yang bernama Tasniem Fauzia ikut-ikutan mencaci Jokowi lewat surat terbuka. Blasss! Mestakung berpihak ke Jokowi. Pikiran kotor Tasniem dipatahkan para pendukung Jokowi membuat perempuan ini tak berkutik, senasib dengan bapaknya.
  10. Tak terikat kontrak dengan lembaga-lembaga survei, entah mengapa lembaga-lembaga itu tertarik untuk mengukur tingkat elektabilitas Jokowi dan pesaingnya Prabowo. Hasilnya, mayoritas lembaga survei mengumumkan bahwa elektabilitas Jokowi mengungguli Prabowo. Apakah tim sukses Jokowi merekayasa dan menyetir lembaga-lembaga survei tadi? Jelas tidak. Lagi pula apa untungnya jika angka-angka itu dipalsukan? Lagi-lagi mestakung pro Jokowi.
  11. Mencoba menandingi elektabilitas Jokowi yang terus meninggi, kubu Prabowo membuat dan merilis hasil survei “baru” lalu disiarkan di TV One. Tidak tanggung-tanggung, lembaga yang dipakai adalah Gallup, lembaga polling bergengsi di AS. Hasilnya, elektabilitas Prabowo 52% dan Jokowi 41%. Belakangan ketahuan, kubu Prabowo melakukan kebohongan publik (tentunya juga TV One), sebab “kemenangan Prabowo” adalah survei copy paste hasil polling Gallup untuk Barack Obama dan McCain saat keduanya bersaing menjadi presiden AS pada 2008. Semesta mempermalukan kubu Prabowo.
  12. Para juru bicara kubu Jokowi selama ini dikenal santun dan tidak begitu pintar berdebat di televisi, sehingga selalu “kalah” jika berhadapan dengan Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon yang selalu diandalkan Prabowo jika tampil debat di televisi. Dalam kebingungan seperti itu Jokowi punya “juru selamat” debat, yaitu Adian Napitupulu dan membuat Fadli Zon mati kutu. Belakangan Fadli Zon tidak mau melayani acara debat di televisi jika berpasangan dengan Adian Napitupulu yang mantan aktivis pemuda tahun 1998 ini.
  13. Masih soal Fadli Zon. Dia menuding Revolusi Mental yang digulirkan Jokowi identik dengan komunis dan menuduh kubu Jokowi pendukung paham komunis. Membalaskah kubu Jokowi? Tidak. Belakangan ketahuan Fadli Zon pernah ziarah ke makam Karl Max dan fotonya disebarluaskan lewat sosial media.
  14. Dalam melakukan strategi kampanye, kubu Jokowi memang kalah cepat melangkah. Prabowo mengidentikkan dirinya (titisan) dengan Bung Karno yang pandai berorasi. Tayangan bahwa Prabowo seideologi dan sekarakter dengan Bung Karno setiap hari ditayangkan di TV One. Eh, Mahfud MD, Ketua Tim Sukses Prabowo berkoar-koar (dimuat di banyak media) bahwa Bung Karno juga pemimpin yang sering melanggar HAM, sampai-sampai ia perlu menyampaikan permohonan maaf kepada putri Bung Karno, Rachmawati. Mestakung perpihak ke siapa? Ke Jokowi bukan?
  15. Nah, ini yang paling seru soal selebaran Obor Rakyat. Pendukung Jokowi di sejumlah pesantren memang sempat terpukul gara-gara selebaran itu. Tapi gara-gara Obor Rakyat, Jokowi yang selama ini diam justru berani berbicara apa adanya bahwa ia bukan keturunan China. Bahwa dia Islam dan sudah naik haji dan umroh beberapa kali. Obor Rakyat mengilhami para relawan untuk menerbitkan tabloid yang isinya mempromosikan Jokowi, bukan balas menyerang lawan. Pemimpin Redaksi Obor Rakyat Setiyardi mengklaim selebaran gelap yang dibuatnya sebagai produk jurnalistik. Namun, Dewan Pers menyatakan dengan tegas bahwa Obor Rakyat bukan produk jurnalistik. Kasus itu mendorong Majalah Tempo membuat laporan utama dan terkuaklah nama penyokong dana Obor Rakyat, seperti Muchlis Hasyim dan orang-orang yang selama ini berada di lingkungan Istana Presiden. Satu lagi bukti mestakung di pihak Jokowi.

Sumber :

1.http://nasional.kompas.com/read/2014/03/26/1450548/Rano.Karno.Kritik.Diulang-ulang.Jokowi.Semakin.Populer

2.http://m.kompasiana.com/post/read/669994/1/isyarat-langit-mestakung-jokowi-presiden-ketujuh.html

3.http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/09/09/msupfg-jokowi-makin-populer-di-media-sosial

Iklan

Kredibilitas lembaga survei di indonesia |Jokowi atau Prabowo yang lebih unggul ?

JUMLAH lembaga survei di Indonesia semakin banyak saja. Menjelang 2014, bermunculan lembaga survei baru. Tentu saja lembaga tersebut juga merangkap sebagai konsultan politik. Dalam tahun politik ini, kebutuhan akan survei semakin tinggi. Calon presiden (capres), calon anggota legislatif (caleg), dan partai politik sama-sama membutuhkan survei untuk mengukur popularitas serta elektabilitas.

Hampir setiap pekan ada saja lembaga survei yang merilis hasil riset mereka. Hasilnya berbeda-beda satu sama lain. Ada tokoh yang banyak dicerca publik tiba-tiba menempati peringkat atas. Sebaliknya, nama tokoh yang berkualitas dan sangat disukai publik malah tidak muncul sama sekali. Sebagai lembaga survei sekaligus konsultan politik, tidak heran kalau banyak yang menuding hasil-hasil survei yang beredar sekarang adalah pesanan tokoh-tokoh berduit. Sayangnya, banyak lembaga survei yang tidak jujur mengenai sumber dana riset mereka.

Dugaan tidak objektifnya sebagian lembaga survei itu semakin kuat ketika banyak hasil survei yang meleset. Sejumlah lembaga survei terbukti salah dalam sejumlah pemilihan kepala daerah (pilkada). Bahkan, ada lembaga survei yang mengumumkan salah seorang calon bupati sebagai pemenang melalui quick count, namun ternyata kalah dalam real count oleh KPU. Padahal, seharusnya lembaga survei tidak boleh keliru melakukan penghitungan cepat suara.

Kepercayaan publik terhadap lembaga survei pun saat ini mulai runtuh. Survei tidak lagi menjadi alat evaluasi untuk memperbaiki performance seorang tokoh, tapi sudah dijadikan alat kampanye untuk mendongkrak popularitas sekaligus alat untuk menjatuhkan lawan politik. Tentu masih ada lembaga survei yang kredibel. Tetapi, keberadaannya makin langka. Sumber padangekspres

Mengapa Lembaga Survei  mengunggulkan Prabowo Tiba-Tiba muncul?

Pertanyaan sekarang tertuju pada lembaga survei. Ada hal yang kontradiktif jika dibandingkan antara pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Dalam satu setengah bulan terakhir, jumlah survei (jika dihitung per Mei 2014) terhadap kontestasi pilpres hanya 14 buah survei. Bandingkan dengan hal yang sama saat pemilu legislatif, dimana jika dihitung per Februari 2014, ada 25 survei parpol. Itu belum menghitung survei capres pada rentang Februari-April 2014 (sebelum pileg dilangsungkan). Sebagai catatan, jumlah survei sejak 2011 hingga 24 Juni 2014 ada sebanyak 118 survei, baik parpol maupun capres.

Ada banyak pertanyaan mengapa lembaga survei tidak lagi intens melakukan survei, meski seharusnya survei pilpres seharusnya secara teknis lebih sederhana. Tapi bisa juga menghadirkan banyak dugaan:

    • Penghitungan nasional terhadap hasil pileg banyak yang meleset dari perkiraan semua survei. Ada trauma penyedia dana survei (jika dilakukan untuk keperluan internal suatu pihak dan punya kebijakan menyengaja disebarluaskan hasilnya)

 

    • Perdebatan kredibilitas lembaga. Para lembaga survei bisa jadi berpikir ulang dalam melakukan survei pilpres saat survei mereka di pileg ternyata meleset terlalu besar

Kredibilitas lembaga survei tidak harus dilihat seberapa sering dia melakukan survei. Bisa jadi suatu lembaga sangat berhati-hati melakukan survei, melakukan persiapan amat panjang, agar hasil survei benar-benar kredibel dan bisa dipercaya. Sekali sebuah lembaga melakukan survei, hasilnya sangat mempengaruhi pilihan publik di Indonesia,  Publik Indonesia dan utamanya peneliti asing terhadap Indonesia (Indonesianis) atau siapapun pemerhati politik Indonesia, cenderung mengerucutkan lembaga survei paling kredibel (baik hasil, maupun transparansi pendanaan lembaga survei) kepada 4 lembaga, yaitu Litbang Kompas, CSIS, INDIKATOR, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dan Lembaga Survei Indonesia (LSI).

CSIS bukan lembaga survei, tapi karena kredibilitas riset multi bidang, membuat survei CSIS dinilai amat terpercaya. Kompas sendiri adalah media cetak, tapi dengan kemampuan jejaringnya dan konten berita yang berimbang, maka tiap survei dari litbang kompas juga dinilai amat terpercaya. Saiful Mujani dulu adalah salah satu pendiri Lembaga Survei Indonesia, dan saat Saiful mendirikan sendiri lembaga survei yang lebih baru (SMRC) kredibilitas atas lembaga barunya saling melekat dengan kredibilitas personal dirinya sebagai ahli riset.

Sampai saat ini “Lembaga” (Survei Indonesia) dinilai paling baik dalam survei, dibanding “Lingkaran” (Survei Indonesia). Antipati terhadap “Lingkaran” yang amat memihak Demokrat di 2009 dan Golkar di 2014, menimbulkan antipati terhadap hasil “Lingkaran” yang dicap tidak lagi sekredibel “Lembaga”. sumber : kompasiana

dilihat dari berbagai rilis survei Juli ini (dengan tindakan survei secara aktif pada awal Juni), selisih Joko Widodo-Prabowo sudah diambang 4-6 persen saja. NAMUN JOKOWI MASIH UNGGUL DI BANDING PRABOWO, bisa jadi hasil menunjukkan Prabowo berbalik unggul. Namun sungguh aneh jika ada lembaga survei pada bulan juli ini yang menyatakan prabowo lebih unggul di banding jokowi…

Sejak Sabtu (21/6/2013) hingga Minggu (29/6/2014), sebanyak 7 lembaga mempublikasikan hasil surveinya. Dari 7 hasil survei tersebut, 5 lembaga diantaranya menyebut pasangan Jokowi-JK unggul, yaitu Balitbang Kompas, IFES dan LSI, LIPI, LSI Denny JA, serta Indo Barometer. Sementara itu, 2 lembaga lainnya yang memprediksi kemenangan di tangan Prabowo-Hatta, yaitu Median dan LSN.

Berikut hasil survei dari 7 lembaga terkait elektabilitas Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK :

Survei Kompas: Jokowi-JK 42,3%, Prabowo-Hatta 35,3%Hasil survei Badan Litbang Kompas yang dipublikasikan Sabtu (21/6/2014) mencatat pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla memiliki tingkat keterpilihan sebesar 42,3 persen. Sementara duet Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapat elektabilitas sebesar 35,3 persen. Meski pasangan Jokowi-JK unggul namun selisih dengan pesaingnya kian tipis yakni 7 persen. Melihat ketatnya persaingan, Kompas menyebut masih mungkin terjadi perubahan.

Survei IFES dan LSI: Elektabilitas Prabowo 39%, Jokowi 43%

Lembaga nirlaba internasional IFES bekerja sama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) melakukan survei pasca Pileg 9 April lalu. Dari survei ini ditemukan bahwa pilihan masyarakat terhadap Calon Presiden masih lebih banyak kepada Joko Widodo.

Survei ini dilaksanakan pada 1-10 Juni 2014. Metode survei yang digunakan adalah wawancara langsung dengan responden. Jumlah responden sebanyak 2.009 orang dengan sample acak tersebar di seluruh Indonesia. Margin of erorr dalam survei ini adalah +- 2,2% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Survei LIPI: Prabowo-Hatta 34%, Jokowi-JK 43%

Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI) menggelar survei elektabilitas capres. Hasilnya, Jokowi-JK unggul 9 persen dari Prabowo-Hatta.

Survei digelar pada 5-14 Juni 2014 dengan 790 responden berusia di atas 17 tahun di 33 provinsi. Pemilihan sampel dengan metode multistage random. Margin error survei ini 3,51% dengan tingkat kepercayaan 95%. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara tatap muka. Pertanyaan yang diajukan ke responden, yaitu “Jika pemilihan presiden diselenggarakan pada hari ini, siapakah yang akan Anda pilih?”

Hasil survei yang dirilis pada Kamis (26/6/2014) ini menunjukkan Jokowi-JK unggul dengan elektabilitas 43% dari Prabowo-Hatta yang memiliki tingkat keterpilihan 34%. Sisanya sebanyak 23% belum menentukan pilihan.

Survei LSI Denny JA: Prabowo-Hatta 38,7%, Jokowi-JK 45%

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dipimpin Denny JA kembali merilis hasil survei. Hasilnya, Jokowi-JK masih unggul namun ditempel semakin ketat oleh Prabowo-Hatta.

Survei digelar pada 1-9 Juni 2014 dengan metode multistage random sampling. Responden survei ini berjumlah 2.400 orang yang diwawancara secara tatap muka. Margin error survei ini 2 persen.

Hasilnya, Jokowi-JK memiliki elektabilitas 45%, unggul dari Prabowo-Hatta yang memiliki elektabilitas 38,7%.

Survei Indo Barometer: Prabowo-Hatta 42,6%, Jokowi-JK 46%

Survei Indo Barometer sebelum memasuki masa kampanye capres Jokowi masih unggul 13,5% atas Prabowo Subianto. Namun kini dua pekan menjelang Pilpres elektabilitas Prabowo mulai menguntit ketat Jokowi.

“Head to head calon presiden, Jokowi 45,3% dan Prabowo (42,9%). Suara belum memutuskan 11,7%. Head to head calon wakil presiden, Jusuf Kalla (44,6%) dan Hatta Rajasa (39,3%),” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dalam paparan hasil survei di Hotel Harris, Jl Dr Sahardjo No 191, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (29/6/2014).

Survei ini dilakukan pada tanggal 16 – 22 Juni 2014. Survei dilaksanakan di 33 provinsi di seluruh Indonesia dengan jumlah responden sebanyak 1.200 orang dengan margin of error sebesar � 3,0% pada tingkat kepercayaan 95%.

Kelima lembaga survei ini, yang tingkat keakuratan dan kredibilitasnya tinggi yakni yaitu Balitbang Kompas, IFES dan LSI, LIPI, LSI Denny JA, serta Indo Barometer masih menunjukan hasil bahwa saat ini pasangan Jokowi-Jusuf kalla LEBIH UNGGUL di banding Prabowo -Hatta.

beberapa lembaga survei yang menunjukan hasil berbeda dari ke 5 lembaga survei besar di indonesia diantaranya adalah Median dan LSN. Tentu kita harus mempertanyakan kredibilitas dari lembaga survei Median, Puskaptis dan LSN, entah lembaga ini bermuatan politik dan sedang menggali kuburannya sendiri atau memang lembaga ini mengambil data data di lapangan dengan cara dan metode yang lain, namun tetap kita simak informasi dari lembaga survei median, Puskaptis dan LSN.

Survei LSN: Prabowo-Hatta 46,6 Persen, Jokowi-JK 39,9 PersenLembaga Survei Nasional (LSN) merilis survei terbarunya. Hasilnya elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mengungguli pasangan nomor urut 2 Joko Widodo-Jusuf Kalla.”Jika Pilpres dilakukan saat survei digelar maka 46,6 persen responden memilih Prabowo-Hatta dan 39,9 persen memilih Jokowi-JK dan 13,5 persen belum memutuskan,” kata Direktur Eksekutif LSN, Umar S Bakri, dalam jumpa pers paparan hasil survei di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Minggu (29/6/2014).

Survei Median: Prabowo Hatta 46,2%, Jokowi-JK 44,3%Media Survei Nasional (Median) hari ini Kamis (26/6/2014) mengeluarkan hasil jajak pendapat mengenai elektabilitas calon presiden dan wakil presiden. Hasil sigi lembaga ini menunjukkan bahwa tingkat keterpilihan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mencapai 46,2 persen.Sementara duet Joko Widodo-Jusuf Kalla memiliki elektabilitas sebesar 44,3 persen. Data ini menurut Direktur Riset Median Sudharto didapat setelah melakukan survei terhadap 2.200 responden di 33 provinsi dari tanggal 15 sampai 20 Juni 2014. Adapun margin error disebut kurang lebih 2,1 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. sumber : http://news.detik.comPusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) merilis hasil survei elektabilitas capres terbaru. Hasilnya tidak berbeda dengan survei sebelumnya yakni Prabowo unggul atas Jokowi.

“Dalam survei keempat yang kami gelar sejak 23-27 Juni, elektabilitas Prabowo mencapai 43,68 persen sedangkan elektabilitas Jokowi 40,83 persen,” kata Direktur Puskaptis, Husin Yazid, Senin (30/6/2014).

Dia menuturkan, Puskaptis sudah empat kali menggelar survei capres. Selama ini pula, elektabilitas Prabowo terus naik.

Pada survei ketiga 16-21 Juni, elektabilitas Prabowo sekira 45,60 persen, mengalahkan elektabilitas Jokowi yang tertatih-tatih di angka 43,21 persen. sumber : okezone.com

Dari berbagai banyak lembaga survei tersebut, yang mana yang benar dalam memberikan survei dan data sesuai kenyataan di lapangan? apakah lembaga survei seperti Median dan LSN hanya bermuatan politik dan sedang menggali kuburannya sendiri?   biarkan sejarah yang akan berbicara , saat pemilu di gelar dan perhitungan suara di umumkan, apakah pasangan Jokowi dan jusuf kalla yang menang atau sebaliknya prabowo- hatta .

pilpres-2014

 

 

Survei terbaru Jokowi Ternyata Unggul di banding Prabowo

“Inilah hasil survei Pilpres satu putaran Jokowi vs Prabowo (terbaru)”. Dengan judul artikel seperti itu, para pengunjung Projo (Pro-Jokowi) tentu akan berharap mendapatkan berita kemenangan dengan persentase besar ataupun telak. Begitu pula sebaliknya, tidak kalah besar pula harapan yang digantungkan oleh para pendukung Praja (Prabowo-Hatta Rajasa) terkait rilis hasil survei pilpres “sudden death” 2014 tersebut.
Untuk mengetahui tingkat elektabilitas calon presiden yang akan memimpin Indonesia, berbagai lembaga biasanya melakukan survey terhadap capres-capres yang akan bertarung dalam pilpes 2014.

 

Survey Jokowi dan Prabowo - MMN Joke

TRIBUNEWS.COM, JAKARTA –
Hasil survei Indobarometer terkini menyebutkan secara keseluruhan, jika Pemilu dilaksanakan hari ini maka Joko Widodo akan keluar menjadi pemenang.

“Jika pemilihan presiden dilakukan saat ini, Jokowi mendapat dukungan terbesar. Dalam jawaban spontan atau sukarela, dukungan terhadap Jokowi 22,4 persen kemudian Prabowo 12 persen,” ujar Burhanudin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, dalam rilis survei ‘Pro-Kontra Seputar Pencalonan Jokowi di Mata Pemilih’ di Cikini, Jakarta, Selasa (18/3/2014).

Perolehan tersebut merupakan top of mind (yang paling diingat) oleh responden siapa calon presiden yang akan dipilih. Responden bebas memilih tanpa diarahkan untuk memilih nama-nama dalam daftar.

Menurut Burhanudin, Jokowi unggul karena dipersepsikan responden sebagai pemimpin yang jujur, bisa dipercaya, amanah yang mencapai 41,1 persen dan perhatian pada rakyat sebesar 38,8 persen. Sementara untuk Prabowo untuk kedua hal tersebut hanya mampu meraih 14 persen dan 13,6 persen.

Jokowi juga unggul telak dalam penanganan masalah mendesak yakni pemberantasan korupsi dan menciptakan lapangan kerja. Jokowi meraih 39,1 persen dan 42, 7 persen sementara Prabowo 16,0 persen dan 16,2 persen.

Survei tersebut dengan melibatkan sampel basis 2.050 responden di seluruh Indonesia, 400 di antaranya dari wilayah DKI dengan umur responden 17 tahun ke atas.
Survei tersebut kerja sama Indikator Politik Indonesia dan Rumah Kebangsaan dengan tingkat kepercayaan 95 persen atau margir of error kurang lebih 2,4 persen.
http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/03/18/hasil-survei-prabowo-kalah-telak-lawan-jokowi

TEMPO.CO, Jakarta – Pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla diprediksi bakal mengalahkan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa pada pemilihan presiden 9 Juli mendatang. Berdasarkan survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia, jika pilpres digelar hari ini, Jokowi-JK meraup 35,42 persen suara meninggalkan Prabowo-Hatta yang meraih 22,75 persen suara.

“Keuntungan besar buat Jokowi lantaran banyak mendapat dukungan spontan dari masyarakat,” kata peneliti dari LSI, Ardian Sopa, dalam rilis yang diterima Tempo, Selasa, 20 Mei 2014. (Baca: Jokowi Ungkap Alasan Golkar Tak Jadi Berkoalisi)

Menurut Ardian, dari segi asal pemilih, pasangan Jokowi-JK relatif unggul di semua segmen. Pasangan Jokowi-JK ungguli pasangan Prabowo Hatta di semua segmen gender, desa-kota, usia, dan agama.

Jokowi-JK juga unggul atas Prabowo-Hatta dari segmen suku, kecuali suku Betawi. Dari segmen pendidikan dan pendapatan, Jokowi-JK pun unggul di hampir semua kategori. Kecuali, pada segmen pendidikan tinggi dan yang berpendapatan Rp 1-2 juta–bersaing dengan pasangan Prabowo-Hatta.

Pada segmen pemilih partai, Jokowi-JK, kata Ardian, juga unggul di hampir semuanya, kecuali pemilih Partai Gerakan Indonesia Raya, Hati Nurani Rakyat, dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia. Sedangkan di lima partai pendukung Prabowo-Hatta lainnya, pasangan Jokowi-JK tetap unggul.

Sebanyak 32,34 persen pemilih Golkar memilih Jokowi-JK dan hanya 24,15 persen memilih Prabowo-Hatta. PPP sebanyak 30,03 persen mendukung Jokowi-Jusuf Kalla dan 22,89 persen mendukung Prabowo-Hatta. (Baca juga: Dukungan Bagi Jokowi-JK di Internal Golkar Meluas)

Pemilih Partai Amanat Nasional juga banyak yang mendukung Jokowi-JK. LSI mencatat, Jokowi-JK mendapat dukungan 41,3 persen, sedangkan Prabowo-Hatta hanya dipilih 25,13 persen pemilih. Pemilih PKS masih imbang, yaitu 32,69 persen untuk Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta.

Survei dilakukan pada 1-9 Mei 2014 terhadap 2.400 responden. Survei dilakukan di 33 provinsi dengan metode acak bertingkat. Survei dilengkapi dengan media analisis, FGD, dan wawancara mendalam dengan simpangan kesalahan 2 persen.
http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/05/20/269579065/Survei-Jokowi-JK-Rebut-Pendukung-Prabowo-Hatta

Merdeka.com – Bergabungnya Partai Golkar untuk mengusung Prabowo Subianto sebagai capres dan Hatta Rajasa sebagai cawapres membuat banyak pihak menduga koalisi Indonesia Raya semakin kuat. Dengan perolehan suara sebesar 15 persen dalam Pileg 2014 lalu, dukungan terhadap mantan Danjen Kopassus tersebut menjadi 48 persen.

Sebaliknya, koalisi partai pendukung Jokowi-Jusuf Kalla tidak lagi unggul. Jika digabung, maka secara keseluruhan perolehan suara tingkat partai hanya mencapai 40 persen.

Meski kuat dalam hal koalisi, ternyata itu tidak terbukti dalam hal dukungan pemilih. Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Ardian Sopa melihat, pasangan Jokowi-JK justru unggul dari Prabowo meski tak dapat dukungan dari elite partai besar.

“Dari sisi persentase dukungan seluruh partai pendukung, koalisi partai pendukung Prabowo-Hatta lebih besar. Namun dari sisi euforia dukungan pemilih, hasilnya berbalik. Dukungan pemilih kepada Jokowi – JK lebih besar,” kata Ardian, di kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (20/5).

Ardian menjelaskan, berdasarkan hasil survei LSI yang dilakukan kepada 2.400 responden dengan margin of error sekitar 2 persen, memperlihatkan 68,5 persen responden mendukung Jokowi , sedangkan Prabowo hanya 15,3 persen.

“Hasilnya sebesar 68,5 persen publik menyatakan bahwa mereka ingin secara sukarela membantu pasangan Jokowi-JK. Sedangkan Prabowo hanya 15,3 persen yang menyatakan sukarela,” paparnya.

Tidak hanya itu, Ardian melanjutkan, jika pemilihan presiden dilakukan pada saat survei dilakukan, maka pasangan Jokowi-JK unggul sementara dibanding pasangan Prabowo-Hatta.

“Elektabilitas Jokowi-JK mencapai 35,42 persen dan elektabilitas Prabowo-Hatta 22,75 persen. Selisih kedua pasangan sebesar 13 persen, namun keduanya masih punya peluang menang karena sebanyak 41,83 persen belum menentukan pilihan,” jelasnya.

Survei LSI ini dilakukan di 33 propinsi dengan metode multistage random sampling pada tanggal 1-9 Mei 2014. Dalam survei ini, LSI melakukan wawancara dan tatap muka dengan jumlah 2.400 responden.
Survei LSI: Elektabilitas Jokowi-JK 35,42%, Prabowo-Hatta 22,75%

http://www.merdeka.com/pemilu-2014/survei-lsi-elektabilitas-jokowi-jk-3542-prabowo-hatta-2275.html

Liputan6.com, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Jokowi masih menjadi kandidat calon presiden terkuat dalam bursa capres 2014. Dalam sejumlah survei, elektabilitas politisi PDIP itu selalu teratas.

Seperti hasil survei Poltracking Institute yang dilaksanakan dari Aceh sampai Pappua, menghasilkan poin elektabilitas Jokowi tetap tertinggi sebesar 34,2%. Posisi Jokowi dibuntuti capres Partai Gerindra, Prabowo 12,4% dan disusul Aburizal Bakrie (ARB) 10,4%.

Namun, sambung Arya, hasil tersebut masih dapat terjadi perubahan. Mengingat kemungkinan adanya 46% pilihan publik bisa berubah-ubah.

Arya menambahkan, bila nantinya ada 4 capres yakni, Jokowi, Prabowo, Aburizal Bakrie, dan Wiranto, berdasarkan hasil polling yang didapat, tetap nama Jokowi yang dominan. Suaranya 41,2% jauh meninggalkan elektabilitas Prabowo 15,2%, ARB 12,2%, dan Wiranto 8,1%.

“Temuan-temuan dalam survei ini cenderung tetap. Asalkan dalam waktu ke depan tidak ada isu politik atau gempa politik dalam skala besar yang dapat mengubah secara ekstrem peta raihan elektabilitas partai maupun capres secara keseluruhan,” pungkas Arya.

Responden dalam survei ini berjumlah 1.200 dengan usia minimal 17 tahun atau sudah menikah serta bukan anggota TNI/Polri. Tingkat kepercayaan survei 95% dan margin of error 2,83%.
http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2032595/survei-poltracking-elektabilitas-jokowi-tinggalkan-prabowo