Kredibilitas lembaga survei di indonesia |Jokowi atau Prabowo yang lebih unggul ?

JUMLAH lembaga survei di Indonesia semakin banyak saja. Menjelang 2014, bermunculan lembaga survei baru. Tentu saja lembaga tersebut juga merangkap sebagai konsultan politik. Dalam tahun politik ini, kebutuhan akan survei semakin tinggi. Calon presiden (capres), calon anggota legislatif (caleg), dan partai politik sama-sama membutuhkan survei untuk mengukur popularitas serta elektabilitas.

Hampir setiap pekan ada saja lembaga survei yang merilis hasil riset mereka. Hasilnya berbeda-beda satu sama lain. Ada tokoh yang banyak dicerca publik tiba-tiba menempati peringkat atas. Sebaliknya, nama tokoh yang berkualitas dan sangat disukai publik malah tidak muncul sama sekali. Sebagai lembaga survei sekaligus konsultan politik, tidak heran kalau banyak yang menuding hasil-hasil survei yang beredar sekarang adalah pesanan tokoh-tokoh berduit. Sayangnya, banyak lembaga survei yang tidak jujur mengenai sumber dana riset mereka.

Dugaan tidak objektifnya sebagian lembaga survei itu semakin kuat ketika banyak hasil survei yang meleset. Sejumlah lembaga survei terbukti salah dalam sejumlah pemilihan kepala daerah (pilkada). Bahkan, ada lembaga survei yang mengumumkan salah seorang calon bupati sebagai pemenang melalui quick count, namun ternyata kalah dalam real count oleh KPU. Padahal, seharusnya lembaga survei tidak boleh keliru melakukan penghitungan cepat suara.

Kepercayaan publik terhadap lembaga survei pun saat ini mulai runtuh. Survei tidak lagi menjadi alat evaluasi untuk memperbaiki performance seorang tokoh, tapi sudah dijadikan alat kampanye untuk mendongkrak popularitas sekaligus alat untuk menjatuhkan lawan politik. Tentu masih ada lembaga survei yang kredibel. Tetapi, keberadaannya makin langka. Sumber padangekspres

Mengapa Lembaga Survei  mengunggulkan Prabowo Tiba-Tiba muncul?

Pertanyaan sekarang tertuju pada lembaga survei. Ada hal yang kontradiktif jika dibandingkan antara pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Dalam satu setengah bulan terakhir, jumlah survei (jika dihitung per Mei 2014) terhadap kontestasi pilpres hanya 14 buah survei. Bandingkan dengan hal yang sama saat pemilu legislatif, dimana jika dihitung per Februari 2014, ada 25 survei parpol. Itu belum menghitung survei capres pada rentang Februari-April 2014 (sebelum pileg dilangsungkan). Sebagai catatan, jumlah survei sejak 2011 hingga 24 Juni 2014 ada sebanyak 118 survei, baik parpol maupun capres.

Ada banyak pertanyaan mengapa lembaga survei tidak lagi intens melakukan survei, meski seharusnya survei pilpres seharusnya secara teknis lebih sederhana. Tapi bisa juga menghadirkan banyak dugaan:

    • Penghitungan nasional terhadap hasil pileg banyak yang meleset dari perkiraan semua survei. Ada trauma penyedia dana survei (jika dilakukan untuk keperluan internal suatu pihak dan punya kebijakan menyengaja disebarluaskan hasilnya)

 

    • Perdebatan kredibilitas lembaga. Para lembaga survei bisa jadi berpikir ulang dalam melakukan survei pilpres saat survei mereka di pileg ternyata meleset terlalu besar

Kredibilitas lembaga survei tidak harus dilihat seberapa sering dia melakukan survei. Bisa jadi suatu lembaga sangat berhati-hati melakukan survei, melakukan persiapan amat panjang, agar hasil survei benar-benar kredibel dan bisa dipercaya. Sekali sebuah lembaga melakukan survei, hasilnya sangat mempengaruhi pilihan publik di Indonesia,  Publik Indonesia dan utamanya peneliti asing terhadap Indonesia (Indonesianis) atau siapapun pemerhati politik Indonesia, cenderung mengerucutkan lembaga survei paling kredibel (baik hasil, maupun transparansi pendanaan lembaga survei) kepada 4 lembaga, yaitu Litbang Kompas, CSIS, INDIKATOR, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dan Lembaga Survei Indonesia (LSI).

CSIS bukan lembaga survei, tapi karena kredibilitas riset multi bidang, membuat survei CSIS dinilai amat terpercaya. Kompas sendiri adalah media cetak, tapi dengan kemampuan jejaringnya dan konten berita yang berimbang, maka tiap survei dari litbang kompas juga dinilai amat terpercaya. Saiful Mujani dulu adalah salah satu pendiri Lembaga Survei Indonesia, dan saat Saiful mendirikan sendiri lembaga survei yang lebih baru (SMRC) kredibilitas atas lembaga barunya saling melekat dengan kredibilitas personal dirinya sebagai ahli riset.

Sampai saat ini “Lembaga” (Survei Indonesia) dinilai paling baik dalam survei, dibanding “Lingkaran” (Survei Indonesia). Antipati terhadap “Lingkaran” yang amat memihak Demokrat di 2009 dan Golkar di 2014, menimbulkan antipati terhadap hasil “Lingkaran” yang dicap tidak lagi sekredibel “Lembaga”. sumber : kompasiana

dilihat dari berbagai rilis survei Juli ini (dengan tindakan survei secara aktif pada awal Juni), selisih Joko Widodo-Prabowo sudah diambang 4-6 persen saja. NAMUN JOKOWI MASIH UNGGUL DI BANDING PRABOWO, bisa jadi hasil menunjukkan Prabowo berbalik unggul. Namun sungguh aneh jika ada lembaga survei pada bulan juli ini yang menyatakan prabowo lebih unggul di banding jokowi…

Sejak Sabtu (21/6/2013) hingga Minggu (29/6/2014), sebanyak 7 lembaga mempublikasikan hasil surveinya. Dari 7 hasil survei tersebut, 5 lembaga diantaranya menyebut pasangan Jokowi-JK unggul, yaitu Balitbang Kompas, IFES dan LSI, LIPI, LSI Denny JA, serta Indo Barometer. Sementara itu, 2 lembaga lainnya yang memprediksi kemenangan di tangan Prabowo-Hatta, yaitu Median dan LSN.

Berikut hasil survei dari 7 lembaga terkait elektabilitas Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK :

Survei Kompas: Jokowi-JK 42,3%, Prabowo-Hatta 35,3%Hasil survei Badan Litbang Kompas yang dipublikasikan Sabtu (21/6/2014) mencatat pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla memiliki tingkat keterpilihan sebesar 42,3 persen. Sementara duet Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapat elektabilitas sebesar 35,3 persen. Meski pasangan Jokowi-JK unggul namun selisih dengan pesaingnya kian tipis yakni 7 persen. Melihat ketatnya persaingan, Kompas menyebut masih mungkin terjadi perubahan.

Survei IFES dan LSI: Elektabilitas Prabowo 39%, Jokowi 43%

Lembaga nirlaba internasional IFES bekerja sama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) melakukan survei pasca Pileg 9 April lalu. Dari survei ini ditemukan bahwa pilihan masyarakat terhadap Calon Presiden masih lebih banyak kepada Joko Widodo.

Survei ini dilaksanakan pada 1-10 Juni 2014. Metode survei yang digunakan adalah wawancara langsung dengan responden. Jumlah responden sebanyak 2.009 orang dengan sample acak tersebar di seluruh Indonesia. Margin of erorr dalam survei ini adalah +- 2,2% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Survei LIPI: Prabowo-Hatta 34%, Jokowi-JK 43%

Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI) menggelar survei elektabilitas capres. Hasilnya, Jokowi-JK unggul 9 persen dari Prabowo-Hatta.

Survei digelar pada 5-14 Juni 2014 dengan 790 responden berusia di atas 17 tahun di 33 provinsi. Pemilihan sampel dengan metode multistage random. Margin error survei ini 3,51% dengan tingkat kepercayaan 95%. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara tatap muka. Pertanyaan yang diajukan ke responden, yaitu “Jika pemilihan presiden diselenggarakan pada hari ini, siapakah yang akan Anda pilih?”

Hasil survei yang dirilis pada Kamis (26/6/2014) ini menunjukkan Jokowi-JK unggul dengan elektabilitas 43% dari Prabowo-Hatta yang memiliki tingkat keterpilihan 34%. Sisanya sebanyak 23% belum menentukan pilihan.

Survei LSI Denny JA: Prabowo-Hatta 38,7%, Jokowi-JK 45%

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dipimpin Denny JA kembali merilis hasil survei. Hasilnya, Jokowi-JK masih unggul namun ditempel semakin ketat oleh Prabowo-Hatta.

Survei digelar pada 1-9 Juni 2014 dengan metode multistage random sampling. Responden survei ini berjumlah 2.400 orang yang diwawancara secara tatap muka. Margin error survei ini 2 persen.

Hasilnya, Jokowi-JK memiliki elektabilitas 45%, unggul dari Prabowo-Hatta yang memiliki elektabilitas 38,7%.

Survei Indo Barometer: Prabowo-Hatta 42,6%, Jokowi-JK 46%

Survei Indo Barometer sebelum memasuki masa kampanye capres Jokowi masih unggul 13,5% atas Prabowo Subianto. Namun kini dua pekan menjelang Pilpres elektabilitas Prabowo mulai menguntit ketat Jokowi.

“Head to head calon presiden, Jokowi 45,3% dan Prabowo (42,9%). Suara belum memutuskan 11,7%. Head to head calon wakil presiden, Jusuf Kalla (44,6%) dan Hatta Rajasa (39,3%),” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dalam paparan hasil survei di Hotel Harris, Jl Dr Sahardjo No 191, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (29/6/2014).

Survei ini dilakukan pada tanggal 16 – 22 Juni 2014. Survei dilaksanakan di 33 provinsi di seluruh Indonesia dengan jumlah responden sebanyak 1.200 orang dengan margin of error sebesar � 3,0% pada tingkat kepercayaan 95%.

Kelima lembaga survei ini, yang tingkat keakuratan dan kredibilitasnya tinggi yakni yaitu Balitbang Kompas, IFES dan LSI, LIPI, LSI Denny JA, serta Indo Barometer masih menunjukan hasil bahwa saat ini pasangan Jokowi-Jusuf kalla LEBIH UNGGUL di banding Prabowo -Hatta.

beberapa lembaga survei yang menunjukan hasil berbeda dari ke 5 lembaga survei besar di indonesia diantaranya adalah Median dan LSN. Tentu kita harus mempertanyakan kredibilitas dari lembaga survei Median, Puskaptis dan LSN, entah lembaga ini bermuatan politik dan sedang menggali kuburannya sendiri atau memang lembaga ini mengambil data data di lapangan dengan cara dan metode yang lain, namun tetap kita simak informasi dari lembaga survei median, Puskaptis dan LSN.

Survei LSN: Prabowo-Hatta 46,6 Persen, Jokowi-JK 39,9 PersenLembaga Survei Nasional (LSN) merilis survei terbarunya. Hasilnya elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mengungguli pasangan nomor urut 2 Joko Widodo-Jusuf Kalla.”Jika Pilpres dilakukan saat survei digelar maka 46,6 persen responden memilih Prabowo-Hatta dan 39,9 persen memilih Jokowi-JK dan 13,5 persen belum memutuskan,” kata Direktur Eksekutif LSN, Umar S Bakri, dalam jumpa pers paparan hasil survei di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Minggu (29/6/2014).

Survei Median: Prabowo Hatta 46,2%, Jokowi-JK 44,3%Media Survei Nasional (Median) hari ini Kamis (26/6/2014) mengeluarkan hasil jajak pendapat mengenai elektabilitas calon presiden dan wakil presiden. Hasil sigi lembaga ini menunjukkan bahwa tingkat keterpilihan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mencapai 46,2 persen.Sementara duet Joko Widodo-Jusuf Kalla memiliki elektabilitas sebesar 44,3 persen. Data ini menurut Direktur Riset Median Sudharto didapat setelah melakukan survei terhadap 2.200 responden di 33 provinsi dari tanggal 15 sampai 20 Juni 2014. Adapun margin error disebut kurang lebih 2,1 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. sumber : http://news.detik.comPusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) merilis hasil survei elektabilitas capres terbaru. Hasilnya tidak berbeda dengan survei sebelumnya yakni Prabowo unggul atas Jokowi.

“Dalam survei keempat yang kami gelar sejak 23-27 Juni, elektabilitas Prabowo mencapai 43,68 persen sedangkan elektabilitas Jokowi 40,83 persen,” kata Direktur Puskaptis, Husin Yazid, Senin (30/6/2014).

Dia menuturkan, Puskaptis sudah empat kali menggelar survei capres. Selama ini pula, elektabilitas Prabowo terus naik.

Pada survei ketiga 16-21 Juni, elektabilitas Prabowo sekira 45,60 persen, mengalahkan elektabilitas Jokowi yang tertatih-tatih di angka 43,21 persen. sumber : okezone.com

Dari berbagai banyak lembaga survei tersebut, yang mana yang benar dalam memberikan survei dan data sesuai kenyataan di lapangan? apakah lembaga survei seperti Median dan LSN hanya bermuatan politik dan sedang menggali kuburannya sendiri?   biarkan sejarah yang akan berbicara , saat pemilu di gelar dan perhitungan suara di umumkan, apakah pasangan Jokowi dan jusuf kalla yang menang atau sebaliknya prabowo- hatta .

pilpres-2014

 

 

Iklan